Sukses Berantas Buta Aksara Al-Qur’an, 400 Warga Binaaan Lapas Jambi Selesaikan Sanlat
- account_circle Admin
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- print Cetak

Foto: Sebanyak 400 warga binaan mengikuti kegiatan ini dengan capaian membanggakan, mulai dari hafal juz 30 hingga khatam Al-Qur'an. (Dok/Ist)
Suasana penuh kekhusyukan dan haru menyelimuti penutupan kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) Ramadhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Jambi, Kamis (12/3) Kegiatan yang berlangsung selama 21 hari tersebut ditutup langsung oleh Wakil Gubernur Jambi, Abdullah Sani.
Kehadiran Wagub Jambi, yang akrab disapa Kiyai Sani, memberikan motivasi besar bagi sekitar 400 warga binaan yang hadir. Sebagai tokoh ulama, Abdullah Sani memberikan tausiyah menyentuh tentang kesempatan kedua bagi setiap manusia.
Momentum Memperbaiki Diri
Dalam arahannya, Abdullah Sani mengingatkan bahwa bulan suci Ramadhan adalah waktu terbaik bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi diri dan memperbaiki kesalahan masa lalu.
“Di mata Allah SWT semua manusia itu sama. Tidak ada yang lebih mulia kecuali ketakwaannya. Tinggal siapa yang mau memperbaiki diri dan siapa yang terus mengulang kesalahan yang sama,” ujar Kiyai Sani di hadapan ratusan warga binaan yang tampak antusias.
Capaian Luar Biasa Pembinaan Spiritual
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jambi, Irwan Rahmat Gumilar, mengungkapkan kebanggaannya atas program Pemberantasan Buta Aksara Al-Qur’an (PBAQ) yang dijalankan. Program ini terbukti memberikan hasil nyata di mana sejumlah warga binaan berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an dan menghafal juz 29 serta 30.
“Warga binaan tidak hanya perlu menjaga fisik, tetapi juga mental dan spiritualnya harus dibentengi. Capaian ini menjadi kebanggaan karena pembinaan di Lapas berjalan dengan baik,” kata Irwan.
Senada dengan itu, Kepala Lapas Kelas IIA Jambi, Syahroni Ali, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan ini tidak akan berhenti seiring berakhirnya Ramadhan. Program ini akan dilakukan secara berkesinambungan mencakup praktik azan, hafalan ayat pendek, hingga seni ceramah agama.
“Kami berharap warga binaan memiliki bekal moral dan spiritual yang kuat, sehingga saat kembali ke masyarakat nanti, mereka benar-benar menjadi pribadi yang baru dan lebih baik,” pungkas Syahroni.
Acara penutupan ditandai dengan unjuk kemampuan beberapa warga binaan dalam membaca dan menghafal ayat suci Al-Qur’an di hadapan tamu undangan, membuktikan bahwa harapan untuk berubah tetap tumbuh meski di balik tembok jeruji. (*)
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar