Breaking News
light_mode
Beranda » Pakar » HUT ke-69 Provinsi Jambi, Akademisi UNJA Dorong Pembangunan Berkualitas dan Inovatif

HUT ke-69 Provinsi Jambi, Akademisi UNJA Dorong Pembangunan Berkualitas dan Inovatif

  • account_circle Admin
  • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
  • print Cetak

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Jambi ke-69 menjadi momentum penting untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah dan kualitas pembangunan daerah. Akademisi Universitas Jambi (UNJA), Dr. Mochammad Farisi, menilai bahwa pembangunan yang selama ini dilakukan Pemerintah Provinsi Jambi belum sepenuhnya dapat dikategorikan sebagai prestasi.

Dalam berbagai forum diskusi publik, kegiatan akademik, hingga ruang dialog masyarakat, Dr. Mochammad Farisi kerap mengajukan pertanyaan mendasar: apa prestasi Provinsi Jambi? Menurutnya, jawaban yang sering muncul masih berkutat pada pembangunan fisik seperti stadion, masjid, maupun proyek infrastruktur lainnya.

“Pembangunan itu adalah tugas pokok dan fungsi pemerintah. Anggarannya berasal dari pajak rakyat melalui APBD dan merupakan mandat konstitusional. Prestasi berada satu tingkat di atasnya, yaitu ketika pembangunan dilakukan secara berkualitas, inovatif, efisien, dan memberikan dampak nyata,” ujar Farisi.

Ia mencontohkan, apabila pembangunan jalan sepanjang satu kilometer dapat direalisasikan menjadi dua kilometer dengan anggaran yang sama melalui inovasi teknologi atau efisiensi perencanaan, maka kelebihan tersebut layak disebut sebagai prestasi.

Kualitas Pembangunan Jadi Persoalan Utama

Farisi menilai persoalan pembangunan di Jambi bukan terletak pada ada atau tidaknya proyek, melainkan pada kualitas hasil pembangunan itu sendiri. Beberapa fasilitas publik seperti taman terbuka hijau dan masjid dinilai memang berfungsi, namun kualitas fisik, estetika, dan ketahanannya sering menuai kritik.

“Dengan anggaran yang tidak kecil, hasil pembangunan kerap terlihat asal, cepat rusak, dan kurang mencerminkan perencanaan matang. Manfaatnya ada, tetapi belum layak menjadi kebanggaan daerah,” katanya.

Wajah Provinsi dan Ruang Simbolik yang Terabaikan

Sorotan juga diarahkan pada kawasan strategis yang menjadi wajah Provinsi Jambi. Salah satunya kawasan wisata Tangga Rajo yang berada tepat di depan rumah dinas Gubernur Jambi. Kawasan yang sering disebut sebagai “Ancol-nya Jambi” tersebut dinilai belum tertata dengan baik dan jauh dari standar destinasi wisata yang representatif.

“Kondisinya masih terlihat kumuh, semrawut, dan tidak mencerminkan kawasan wisata unggulan, padahal lokasinya sangat simbolik,” ujarnya.

Selain itu, Tugu Juang yang berada di pusat Kota Jambi juga dinilai belum mampu berfungsi sebagai landmark daerah yang modern dan beridentitas kuat. Menurut Farisi, banyak daerah lain menjadikan ruang semacam ini sebagai ikon visual kota, sementara di Jambi justru terkesan tertinggal.

Tantangan Efisiensi Anggaran dan Inovasi Daerah

Memasuki masa keterbatasan anggaran, Farisi menegaskan bahwa tantangan utama pemerintah daerah adalah kemampuan berinovasi. Efisiensi, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pemangkasan anggaran, melainkan harus melahirkan terobosan.

“Tanpa inovasi, efisiensi hanya akan menghasilkan pengurangan. Dengan inovasi, keterbatasan justru bisa melahirkan lompatan pembangunan,” tegasnya.

Sebagai akademisi pendatang dari Jawa yang kini menetap, bekerja, dan membesarkan keluarga di Jambi, Farisi menekankan bahwa kritik tersebut disampaikan sebagai bentuk kepedulian terhadap daerah yang telah menjadi ‘tanah air kedua’-nya.

Usulan Penguatan Pariwisata Budaya Jambi

Dalam momentum HUT Jambi ke-69, Farisi juga mengusulkan penguatan sektor pariwisata budaya sebagai strategi menghadapi keberadaan jalan tol Trans Sumatera. Ia menilai Jambi memiliki modal besar berupa rumah adat dan identitas budaya yang kuat.

Menurutnya, konsep wisata budaya seperti penyediaan rumah adat hidup, persewaan pakaian adat Jambi untuk wisatawan, serta narasi sejarah yang menarik dapat dikelola secara profesional dengan biaya relatif kecil namun berdampak besar.

“Model ini sukses di banyak daerah seperti Istana Pagaruyung di Sumatera Barat, Istana Siak di Riau, hingga kawasan Malioboro Yogyakarta. Jambi sebenarnya sudah memiliki fasilitas dasar, tinggal kemauan politik dan kreativitas pengelolaan,” jelasnya.

Momentum Naik Kelas di Usia ke-69

Menutup refleksinya, Dr. Mochammad Farisi menegaskan bahwa usia ke-69 Provinsi Jambi harus menjadi momentum untuk naik kelas—membedakan secara tegas antara kewajiban pembangunan dan prestasi daerah yang membanggakan.

“Jambi pantas lebih maju, lebih rapi, lebih beradab, dan lebih percaya diri menampilkan wajahnya ke luar. Cinta pada daerah bukan hanya soal memuji, tetapi juga berani mengatakan bahwa kita bisa jauh lebih baik,” pungkasnya.

Selamat HUT Provinsi Jambi ke-69.
Jambi Elok Nian. (*)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less