IHSG Tembus Rekor 9.000 di Era Prabowo: Prediksi Analis dan Proyeksi Menuju 10.000
- account_circle Admin
- calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
- print Cetak

Foto: Ilustrasi grafik IHSG tembus level 9.000 di Bursa Efek Indonesia. (Dok/Ist)
Pasar modal Indonesia mencatatkan milestone bersejarah di awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara resmi menembus level psikologis baru di angka 9.000 pada perdagangan Kamis (8/1/2026).
Pencapaian ini menjadi rekor tertinggi sepanjang masa (All Time High) yang terjadi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Berdasarkan data perdagangan, indeks sempat menyentuh level 9.002 pada sesi pembukaan. Fenomena ini memicu gelombang optimisme di kalangan investor, baik domestik maupun mancanegara, terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Optimisme Pasar dan “Purbaya Effect”
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, memberikan respons positif atas performa indeks yang dinilai “to the moon” tersebut. Menurutnya, lonjakan ini bukan sekadar angka, melainkan manifestasi dari kepercayaan dunia usaha terhadap kebijakan fiskal pemerintah yang kian sinkron dan pro-pertumbuhan.
“Ini baru permulaan. Para investor melihat dampak nyata dari pembangunan dan keseriusan kita dalam mengelola ekonomi. Fundamental kita kuat, dan arahnya sudah terlihat jelas,” ujar Purbaya dalam pernyataannya.
Analisis Pakar: Peluang Menuju Level 10.000
Senada dengan pemerintah, sejumlah analis pasar modal menilai bahwa tren bullish ini didorong oleh akumulasi ekspektasi positif terhadap prospek bisnis di Indonesia. Meski dinamika geopolitik global masih penuh tantangan, daya tahan ekonomi domestik terbukti mampu menjadi penopang utama.
David, seorang pengamat pasar modal, menyebutkan bahwa menembus level 9.000 adalah sinyal kuat bahwa pasar masih memiliki ruang tumbuh yang lebar.
”Kami melihat ada peluang yang sangat kredibel bagi IHSG untuk mengejar level 10.000 dalam tahun ini. Ini didasarkan pada struktur kebijakan saat ini serta likuiditas pasar yang masih cukup melimpah,” jelasnya.
Faktor Pendorong Utama IHSG Rekor 9.000:
• Kepercayaan Investor Asing: Aliran modal asing (capital inflow) mulai kembali membanjiri pasar saham Indonesia seiring dengan kepastian regulasi.
• Kenaikan Cadangan Devisa: Bank Indonesia melaporkan posisi cadangan devisa yang solid di angka US$ 156,5 miliar pada akhir 2025.
• Sentimen Komoditas: Penguatan harga komoditas strategis turut memberikan tenaga ekstra bagi saham-saham di sektor energi dan bahan baku.
Kesimpulan untuk Investor
Pencapaian rekor 9.000 ini menandai era baru bagi Bursa Efek Indonesia (BEI). Bagi para pelaku pasar, level ini menjadi titik acuan baru untuk menyusun strategi investasi jangka panjang. Namun, investor tetap disarankan untuk waspada terhadap potensi koreksi wajar pasca penguatan signifikan (profit taking) dan terus memantau dinamika ekonomi global. (*)
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar