Prediksi Kurs Rupiah Pekan Depan: Terancam Anjlok ke Rp17.100 Per Dolar AS akibat Konflik Global
- account_circle Admin
- calendar_month Senin, 19 Jan 2026
- print Cetak

Foto: Ilustrasi Rupiah. (Dok/Ist)
Kondisi geopolitik dunia yang kian memanas diprediksi akan memberikan tekanan berat pada nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Analis pasar uang memperkirakan mata uang Garuda berisiko melemah hingga menyentuh level Rp17.100 pada pekan depan.
Ketidakpastian ekonomi global yang disebut sebagai “gonjang-ganjing dunia” ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif, mulai dari ketegangan perang hingga kebijakan moneter AS yang masih menjadi sorotan investor.
Analisis Teknikal dan Target Pelemahan
Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis teknikal, Rupiah memiliki kecenderungan untuk terus terdepresiasi. Pada awal pekan depan, target pelemahan pertama diperkirakan berada di level Rp16.920.
Namun, ia memperingatkan bahwa jika tekanan terus berlanjut tanpa adanya intervensi yang kuat, posisi Rupiah bisa semakin terperosok.
“Ada risiko pelemahan yang lebih dalam. Pekan depan, mata uang rupiah kemungkinan besar bisa menyentuh angka Rp17.100 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.
Faktor Geopolitik: Rusia, Ukraina, dan Timur Tengah
Pelemahan tajam ini bukan tanpa alasan. Memburuknya situasi keamanan di berbagai belahan dunia menjadi “biang kerok” utama. Eskalasi konflik antara Rusia dan Ukraina yang kian meningkat kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi dan komoditas global.
Tak hanya itu, situasi di Timur Tengah, khususnya ketegangan di Iran, turut memperkeruh keadaan. Kabar mengenai penutupan wilayah udara dan pergerakan armada tempur Amerika Serikat, seperti Kapal Induk Abraham Lincoln, menambah sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang (emerging markets) termasuk Indonesia.
Dampak Kebijakan The Fed
Selain faktor perang, investor juga masih mengawasi langkah bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Ketidakpastian mengenai arah suku bunga acuan di tengah inflasi global yang belum sepenuhnya stabil membuat Dolar AS tetap menjadi aset safe haven yang paling dicari, sehingga menekan nilai tukar mata uang lain.
Para pelaku pasar dan masyarakat diimbau untuk waspada terhadap fluktuasi harga barang yang mungkin terdampak oleh kenaikan kurs Dolar AS ini, terutama bagi sektor industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. (*)
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar