Breaking News
light_mode
Beranda » Ragam » Demi Tugas Padamkan Karhutla, David Rela Berjauhan dari Istri dan Bayi Perempuannya

Demi Tugas Padamkan Karhutla, David Rela Berjauhan dari Istri dan Bayi Perempuannya

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
  • print Cetak

Selama sepuluh tahun bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran hutan dan lahan (karhutla), David Juntara Harahap terbiasa meninggalkan rumah selama berminggu-minggu demi menjalankan tugas. Namun, penugasan kali ini terasa berbeda. Di rumah, ada seorang bayi perempuan yang baru saja hadir dalam hidupnya, sementara ia harus kembali berjauhan dari keluarga.

David hanya memiliki waktu tiga hari untuk mendampingi istrinya setelah kelahiran anak perempuan pertama mereka. Setelah itu, ia kembali bertugas memadamkan kebakaran hutan dan lahan.

Bagi David, keputusan untuk kembali bekerja bukan sekadar menjalankan tanggung jawab profesi. Ada perasaan berat ketika harus meninggalkan istri dan putri kecilnya yang masih membutuhkan kehadiran seorang ayah.

“Terus terang, sangat sedih. Apalagi saya baru menjadi seorang ayah dan saya hanya bisa mendampingi istri saya waktu melahirkan selama tiga hari,” tutur David.

Pengalaman sepuluh tahun menghadapi api dan asap ternyata tidak serta-merta membuatnya terbiasa dengan jarak yang kini memisahkannya dari keluarga. Menjadi seorang ayah menghadirkan kerinduan yang berbeda, terutama ketika ia menyadari bahwa banyak momen awal kehidupan putrinya harus dilewati dari kejauhan.

Di rumah mereka di kawasan PT Wirakarya Sakti (WKS) Sungai Tapa, Jambi, sang istri, Angel (25), menjalani hari-hari pertamanya sebagai seorang ibu dengan merawat putri mereka, Dania.

Saat wawancara dilakukan, usia Dania baru dua bulan 21 hari.

Di usia sekecil itu, Dania belum memahami mengapa ayahnya harus pergi begitu lama. Namun, Angel memiliki cara sederhana untuk mengenalkan sosok David kepada putri mereka: memperlihatkan foto sang ayah sambil bercerita tentangnya.

“Saya sering memperlihatkan foto ayahnya dan menceritakan tentang ayahnya, walaupun anak masih bayi dan belum sepenuhnya mengerti,” kata Angel.

Menjalani Hari-Hari Tanpa Kehadiran Suami

Bagi Angel, menjadi ibu baru sekaligus menjalani hari-hari tanpa suami bukan perkara mudah.

Ada saat-saat ketika ia membutuhkan teman berbagi cerita, meminta pendapat, atau sekadar bantuan untuk menyelesaikan urusan rumah tangga. Hal-hal sederhana yang biasanya bisa dilakukan bersama harus dijalaninya sendiri ketika David sedang bertugas.

Angel memahami pekerjaan suaminya. Ia tahu bahwa tugas pemadaman karhutla memiliki tanggung jawab besar dan menuntut kehadiran petugas di lapangan. Meski demikian, pemahaman itu tidak serta-merta menghilangkan rasa sepi.

“Yang paling berat adalah menjalani hari-hari tanpa kehadiran suami. Biasanya ada tempat untuk berbagi cerita, meminta pendapat, dan saling membantu dalam urusan keluarga. Namun, ketika suami bertugas, saya berusaha kuat dan menjalankan tanggung jawab di rumah sendiri,” ungkapnya.

Di tengah kesibukan merawat Dania, Angel juga harus berdamai dengan kenyataan bahwa suaminya tidak selalu bisa dihubungi.

Ketika pesan tidak segera dibalas atau panggilan telepon tidak tersambung, kekhawatiran kerap muncul. Ia hanya bisa berharap David dalam keadaan baik-baik saja, terlebih ketika sang suami sedang berada di lokasi kebakaran yang jauh dari permukiman.

“Saya hanya bisa bersabar dan terus berdoa, berharap ada kabar bahwa suami dalam keadaan baik-baik saja,” tuturnya.

Ketika Sinyal Menjadi Barang Berharga di Tengah Asap

Bagi David, tantangan selama bertugas bukan hanya menghadapi api, asap, dan medan yang sulit. Ada satu hal sederhana yang terkadang justru terasa sangat berharga: sinyal telepon.

Lokasi pemadaman yang jauh dari permukiman membuat akses komunikasi tidak selalu tersedia. Ketika jaringan terputus, David tidak bisa mengetahui secara langsung keadaan istri dan putrinya di rumah.

Dalam situasi seperti itu, kerinduan bercampur dengan kecemasan. Ia ingin mendengar kabar keluarga, tetapi kondisi lapangan tidak selalu memungkinkan.

“Ketika saya mendapat kebakaran di lokasi yang jauh dari permukiman masyarakat atau susah sinyal, itu perasaan yang paling sedih. Saya tidak bisa menghubungi istri dan keluarga saya,” ujarnya.

Di lapangan, David dan tim juga harus menghadapi tantangan fisik yang berat. Akses menuju lokasi kebakaran terkadang sulit, sementara terik matahari, kelelahan, dan keterlambatan pasokan makanan menjadi bagian dari risiko pekerjaan.

Meski demikian, tugas tetap harus dijalankan. Mereka berupaya mengendalikan kebakaran agar tidak meluas dan menimbulkan dampak lebih besar bagi masyarakat maupun lingkungan.

Selama sepuluh tahun bekerja, David telah mengenal berbagai kesulitan tersebut. Sebagai pemimpin tim, ia juga belajar memahami karakter setiap anggota dan membangun kekompakan di tengah tekanan pekerjaan.

Baginya, hubungan dengan anggota tim tidak lagi sebatas hubungan profesional.

“Tim di lapangan sudah saya anggap seperti keluarga sendiri,” katanya.

Nasihat Rekan yang Terus Diingat

Di tengah kelelahan, David memiliki kalimat sederhana dari seorang rekannya bernama Tobi yang terus melekat dalam ingatannya.

“Ketika bekerja kena asap, pulang kerja kena asap. Ketika kita tidak bekerja, dapur tidak berasap,” kenang David menirukan perkataan rekannya.

Ungkapan itu menggambarkan realitas yang dihadapinya sebagai pekerja sekaligus kepala keluarga. Ada tanggung jawab mencari nafkah yang harus dipenuhi, meskipun pekerjaan tersebut menuntutnya menghabiskan waktu jauh dari rumah.

Kini, tanggung jawab itu terasa semakin besar. David bukan lagi hanya seorang suami, tetapi juga seorang ayah yang memiliki bayi kecil dengan berbagai kebutuhan.

Di satu sisi, ia ingin berada di dekat Dania dan menyaksikan pertumbuhan putrinya. Di sisi lain, ia harus tetap menjalankan pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Dua tanggung jawab itu berjalan beriringan, menghadirkan kebanggaan sekaligus kerinduan yang tidak mudah diungkapkan.

Tangisan Dania yang Paling Dirindukan

Di rumah, Angel berusaha tetap kuat. Ia merawat Dania sembari menunggu kesempatan ketika suaminya bisa kembali berkumpul bersama mereka.

Bagi Angel, kepulangan David bukan semata-mata tentang melepas rindu. Ia ingin suaminya memiliki lebih banyak waktu untuk menggendong Dania, menyaksikan perkembangannya, dan menikmati masa-masa awal sebagai orang tua.

Harapan itu sederhana, tetapi begitu berarti bagi sebuah keluarga yang baru memulai perjalanan bersama.

David pun memiliki kerinduan yang tidak kalah sederhana. Ia merindukan masakan istrinya yang menurutnya sangat lezat. Namun, ada hal lain yang kini terasa jauh lebih istimewa: suara tangisan putri kecilnya.

“Yang paling saya rindukan adalah tangisan anak perempuan saya yang masih kecil,” ujar David.

Tangisan yang mungkin terdengar biasa bagi orang lain justru menjadi sesuatu yang ingin segera didengarnya kembali. Bagi seorang ayah yang harus berada jauh dari rumah, suara itu merupakan bagian dari kehidupan keluarga yang tidak bisa ia nikmati setiap hari.

Ketika mendapat kesempatan pulang, David ingin segera mencium dan memeluk Dania. Ia ingin berada dekat dengan putrinya, bukan lagi sekadar mengenal perkembangannya melalui cerita atau membayangkan wajahnya dari kejauhan.

Angel memahami bahwa pekerjaan suaminya memiliki risiko dan menuntut tanggung jawab besar. Ia bangga terhadap pengabdian David, tetapi keselamatan tetap menjadi harapan utamanya setiap kali sang suami berangkat bertugas.

“Bagi saya, keluarga tidak membutuhkan hal yang berlebihan. Kami hanya ingin suami pulang dengan selamat karena kehadirannya adalah kebahagiaan terbesar bagi kami,” katanya.

Sepuluh tahun bekerja sebagai petugas pemadam karhutla telah mengajarkan David menghadapi api, asap, medan sulit, dan berbagai tantangan di lapangan. Namun, menjadi seorang ayah memberinya pengalaman baru tentang arti jarak, tanggung jawab, dan kerinduan.

Sementara David menjalankan tugas, Angel terus merawat Dania di rumah. Sesekali, ia memperlihatkan foto sang ayah dan menceritakan sosok yang sedang bekerja jauh dari mereka.

Dania mungkin belum mengerti mengapa ayahnya harus pergi begitu lama. Namun, ada pelukan yang sedang dinantikan di rumah, dan ada seorang ayah yang ingin segera kembali untuk menggendong putri kecilnya.

Setelah berhari-hari berjibaku dengan api dan asap, bagi David, salah satu hal paling berharga yang ingin ia temui bukanlah sesuatu yang besar.

Hanya istri dan putrinya, serta kesempatan untuk memeluk mereka kembali. (*)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less