Duit Rp7,2 Miliar Mengalir ke Desa-Desa Jambi Tiap Hari, Al Haris: Efek Dominan Program MBG Luar Biasa!
- account_circle Admin
- calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
- print Cetak

Program ini diprediksi mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan dengan nilai transaksi mencapai Rp7,2 miliar per hari di Provinsi Jambi. (Foto: Diskominfo Provinsi Jambi)
Gubernur Jambi Al Haris menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar upaya perbaikan gizi, melainkan motor penggerak ekonomi daerah yang sangat masif.
Berdasarkan data terbaru, perputaran uang dari program ini mencapai Rp7,2 miliar setiap harinya di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Jambi.
Hal tersebut disampaikan Al Haris dalam Rapat Konsolidasi Pelaksanaan MBG bersama Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya, di BW Luxury Hotel, Sabtu (2/5).
Gubernur Al Haris menjelaskan bahwa kehadiran program ini menciptakan ekosistem pasar yang jelas bagi pelaku usaha lokal. Jika sebelumnya banyak hasil bumi dijual ke luar daerah, kini produk pertanian dan peternakan Jambi terserap sepenuhnya di dalam provinsi.
“Produk pertanian dan peternakan sekarang lebih banyak terserap di dalam daerah. Ini tentu sangat membantu perekonomian masyarakat,” ujar Al Haris.
Meski demikian, Al Haris memberikan catatan penting terkait produksi pangan mandiri. Saat ini, Jambi baru mampu memenuhi sekitar 71 persen kebutuhan beras secara mandiri, sementara untuk komoditas telur ayam sudah mampu mencukupi kebutuhan lokal secara penuh.
Rincian Perputaran Uang Rp7,2 Miliar
Wakil Kepala BGN, Sony Sanjaya, memaparkan rincian aliran dana Rp7,2 miliar tersebut yang mengalir langsung ke tingkat desa melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG):
• Rp4,1 Miliar: Belanja bahan pangan lokal (beras, daging ayam, telur, buah, dan sayur).
• Rp963,5 Juta: Honor untuk 9.635 tenaga kerja dan relawan.
• Rp881,5 Juta: Biaya operasional (air, gas, BBM, dan perlengkapan).
“Uang tersebut sepenuhnya mengalir di tingkat bawah karena SPPG berada di desa-desa. Dana ini masuk ke kantong petani, peternak, hingga pedagang lokal,” jelas Sony.
Evaluasi Berbasis Aplikasi
Untuk memastikan kualitas dan mencegah penyimpangan, BGN akan menerapkan sistem evaluasi berbasis aplikasi mulai pekan depan. Melalui aplikasi ini, penerima manfaat dapat memberikan penilaian langsung terkait rasa makanan, variasi menu, hingga ketepatan waktu distribusi.
Sony juga mengingatkan agar Satgas MBG di kabupaten/kota memastikan tidak ada praktik rekayasa dalam rantai pasok dan memprioritaskan kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, serta balita dalam 1.000 hari pertama kehidupan. (*)
- Penulis: Admin

Saat ini belum ada komentar