Breaking News
light_mode
Beranda » Pakar » Analisis Dr. Mochammad Farisi (UNJA) Terkait Ambisi Trump Caplok Greenland

Analisis Dr. Mochammad Farisi (UNJA) Terkait Ambisi Trump Caplok Greenland

  • account_circle Admin
  • calendar_month Rabu, 14 Jan 2026
  • print Cetak

Isu keinginan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengakuisisi atau “mencaplok” Greenland kembali memanas di awal tahun 2026. Langkah kontroversial ini menuai sorotan dunia, termasuk dari kalangan akademisi di Indonesia.

Dr. Mochammad Farisi, akademisi dari Universitas Jambi (UNJA), memberikan analisis mendalam mengenai motif di balik sikap “ngotot” Trump tersebut. Menurutnya, isu ini bukan sekadar urusan jual-beli lahan, melainkan pergeseran peta geopolitik global yang sangat serius.

​Mengapa Trump Sangat Menginginkan Greenland?

​Menurut Dr. Mochammad Farisi, ada tiga alasan utama yang melandasi ambisi Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Trump terhadap wilayah otonom Denmark tersebut:
1. ​Keamanan Nasional dan Rivalitas Global
Trump secara terang-terangan menyebut bahwa penguasaan Greenland penting untuk membendung pengaruh Rusia dan China di wilayah Arktik. “Amerika tidak ingin bertetangga langsung dengan kekuatan militer Rusia atau dominasi ekonomi China di kutub utara,” ujar Farisi.
2. ​Kekayaan Sumber Daya Alam
Seiring mencairnya es di kutub akibat perubahan iklim, akses terhadap cadangan minyak, gas, dan mineral langka (rare earth) di Greenland menjadi semakin terbuka. Farisi menilai ini adalah investasi jangka panjang AS untuk kemandirian energi.
3. ​Posisi Geostrategis Militer
Greenland memiliki posisi kunci bagi pertahanan udara dan sistem peringatan dini Amerika Serikat. Penguasaan penuh atas wilayah ini akan memperkuat kendali AS di belahan bumi utara.

Tantangan Hukum Internasional dan Penolakan Lokal

​Meskipun Trump menyatakan siap melakukan kesepakatan “dengan cara mudah atau sulit,” Dr. Mochammad Farisi mengingatkan bahwa ada benturan hukum dan etika internasional.

​”Greenland memang memiliki otonomi luas dari Denmark, namun rakyatnya secara tegas menolak. Mereka menyatakan tidak ingin menjadi orang Amerika. Di sisi lain, Denmark juga menegaskan bahwa Greenland tidak untuk dijual,” tambah akademisi UNJA ini.

​Langkah Trump yang cenderung mengabaikan kedaulatan wilayah lain diprediksi akan memperkeruh hubungan AS dengan sekutu-sekutunya di Eropa (NATO) dan meningkatkan tensi diplomatik di tingkat global.

​Kesimpulan: Apa Dampaknya bagi Dunia?

Bagi Dr. Mochammad Farisi, manuver Trump ini mencerminkan kebijakan America First yang agresif. Jika ambisi ini terus dipaksakan, stabilitas di kawasan Arktik bisa terganggu, dan persaingan antar negara adidaya akan memasuki babak baru yang lebih berbahaya.

​Sebagai akademisi, Farisi menekankan pentingnya diplomasi internasional yang menghormati hak menentukan nasib sendiri (self-determination) bagi rakyat Greenland, alih-alih menjadikannya komoditas transaksi politik.(*)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less