Breaking News
light_mode
Beranda » Pemerintah » Berikan Kuliah Umum di Kampus UNJA, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Puji Potensi Jambi

Berikan Kuliah Umum di Kampus UNJA, Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon Puji Potensi Jambi

  • account_circle Admin
  • calendar_month 16 jam yang lalu
  • print Cetak

Penguatan identitas kultural dan pemeliharaan warisan peradaban masa lalu merupakan instrumen strategis dalam memperkokoh ketahanan karakter bangsa di era modern. Kebudayaan tidak boleh lagi diposisikan sekadar sebagai peninggalan masa lalu yang statis, melainkan harus diintegrasikan ke dalam ekosistem pendidikan tinggi dan dikembangkan sebagai motor penggerak ekonomi kreatif yang inklusif.

Komitmen pemajuan nilai-nilai luhur daerah tersebut disorot tajam dalam agenda akademis tingkat nasional di Provinsi Jambi. Gubernur Jambi, Al Haris, mendampingi Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, saat memberikan Kuliah Umum di hadapan civitas akademika Universitas Jambi (UNJA). Agenda strategis ini berlangsung di Auditorium Graha Singadekane Kampus UNJA Telanaipura, Kota Jambi, pada Jumat (31/7).

Forum ilmiah ini dihadiri langsung oleh Rektor UNJA beserta jajaran Wakil Rektor, para dekan, dosen, kepala OPD di lingkup Pemprov Jambi, serta ratusan mahasiswa yang memadati ruang diskusi secara interaktif.

Dalam kuliah umum tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengusung tema “Pemajuan Kebudayaan dalam Perspektif Ekonomi Budaya”. Ia menegaskan posisi krusial kebudayaan sebagai akar dari jati diri nasional yang tidak boleh terpisahkan dari arah pembangunan dunia pendidikan.

“Kebudayaan adalah akar dari jati diri kita semua. Tanpa adanya penguatan aspek budaya, institusi pendidikan akan kehilangan arah, dan pembangunan karakter bangsa tidak akan pernah utuh,” tegas Fadli Zon.

Kenalkan Istilah Civilizational State di UNJA

Dalam pemaparan materi yang berbobot tersebut, Fadli Zon memperkenalkan istilah baru yang dinilai lebih relevan untuk menggambarkan kedudukan strategis geopolitik dan kultural Indonesia di mata internasional. Ia menyatakan bahwa Indonesia kurang tepat jika hanya dikategorikan sebagai nation state (negara bangsa) biasa, melainkan harus dipandang sebagai civilizational state atau negara peradaban.

Gagasan ini dinilai sangat kontekstual dengan realita Provinsi Jambi yang memiliki kekayaan historis yang masif. Provinsi Jambi dinilai sebagai laboratorium hidup kebudayaan karena memiliki kompleks situs purbakala Candi Muaro Jambi, akar tradisi Melayu yang kuat, serta tingkat keragaman etnis yang tinggi. Oleh karena itu, perguruan tinggi didorong aktif berkolaborasi dengan pemda untuk menjadi pusat riset kebudayaan.

Lebih lanjut, Menteri Kebudayaan memetakan tiga tantangan besar dunia kebudayaan saat ini. Pertama, kompleksitas pelindungan warisan budaya. Kedua, disrupsi teknologi digital yang mengubah cara produksi serta penyebaran pengetahuan. Ketiga, tuntutan bagi perguruan tinggi untuk mampu melahirkan inovasi dan talenta yang menjawab persoalan riil masyarakat pemilik budaya tersebut.

Fadli Zon pun melemparkan pertanyaan kunci sebagai bahan kajian lanjutan bagi para mahasiswa, yakni mengenai bagaimana warisan budaya seperti situs Muaro Jambi dapat dikembangkan menjadi sumber pengetahuan dan kesejahteraan ekonomi tanpa merusak keasliannya.

“Di tengah ketatnya kompetisi pengetahuan dan teknologi digital global, perguruan tinggi dan generasi muda Indonesia harus mampu hadir sebagai produsen gagasan dan pembentuk narasi utama, bukan hanya sekadar menjadi pengikut (follower), melainkan penggerak masa depan kebudayaan dunia,” urai Fadli Zon.

Jambi Berkomitmen Jaga Warisan Nasional

Menanggapi pemaparan tersebut, Gubernur Jambi, Al Haris, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian besar yang diberikan oleh Kementerian Kebudayaan RI terhadap potensi kultural Bumi Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

Al Haris menegaskan bahwa jajaran Pemerintah Provinsi Jambi memiliki komitmen penuh untuk terus membangun sinergi linier bersama pemerintah pusat dalam melakukan pelindungan dan pemanfaatan kebudayaan lokal. Kampus-kampus besar seperti UNJA diharapkan mampu menjadi wadah intelektual untuk melahirkan pemikir budaya handal.

“Anak-anak muda di Jambi harus memiliki rasa bangga yang tinggi terhadap kekayaan budayanya sendiri. Kita tidak boleh kalah langkah dari daerah lain dalam mempromosikan nilai-nilai lokal. Kebudayaan yang dikelola dengan kreatif dan berbasis pengetahuan harus mampu kita transformasikan menjadi energi baru dalam pembangunan daerah,” pungkas Al Haris. (*)

  • Penulis: Admin

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Rekomendasi Untuk Anda

expand_less